A. PENGERTIAN AKHLAQ
Secara etimologis
(lughatan) akhlaq (bahasa arab) adalah bentuk imolojamak dari khuluq yang
berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Berakar dari kata
khalaqo yang berarti menciptakan. Seakar dengan kata khaliq (pencipta) makhluk
(yang diciptakan) dan khalaq (penciptaan).
Kesamaan akar kata diatas
mengisyaratkan bahwa dalam akhlak tercakup pengertian terciptanya keterpaduan
antara kehendak khaliq (Tuhan) dengan perilaku makhluk (manusia). Atau dengan
kata lain, tata prilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya baru
mengandung nilai akhlaq yang hakikanakala tindakan atau prilaku tersebut
didasarkan kepada kehendak khalik (Tuhan). Dari pengertian etimologis seperti
ini, akhlak bukan saja merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur
hubungan antar sesama manusia tetapi juga norma yang mengatur hubungan antara
manusia dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semsesta sekalipun.
Secara terminologis
(Istilahan) ada beberapa definisi tentang akhlaq. Penulis pilihkan tiga
diantaranya.
1. Imam Al-Gozali
فا لخلق عبارةعن
هيئة فى النفس را سخة عنها تصدرالافعال بسهولة ويسر من غير حا جة الى فكرورؤية
Akhlaq adalah “sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memelrlukan pemikiran dan
pertimbangan.
2. Ibrahim Anis
الخلق حال للنفس
راسخة تصدرعنها الا عمال من خيراو شر من غير حاجة الى فكر ورؤية
Akhlaq adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
dengannya lahirlah macam-macam perbuatan, baik – buruk, tanpa membutuhkan
pemikiran dan pertimbangan.
3. Abdul Karim
Zaidan
مجمو عة من
المعا نى والصفات المستقرة فى النفس وفى ضوءهاوميزانها يحسن الفعل فى نظر الاءنسان
او يقبح ومن
ثم يقدم عليه او يحجم عنه
“(Akhlaq) adalah nilai-nilai dan sifat-sifat yang tertanam dalam jiwa, yang
dengan sorotan dan timbangannya seseorang dapat menilai perbuatannya baik atau buruk,
untuk kemudian memilih untuk melakukan atau meninggalkannya”
Ketiga definisi yang
dikutip diatas sepakat menyatakan bahwa akhlaq atau khuluq itu adalah sifat
yang tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara sepontan bila
mana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan lebih dahulu,
serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Dalam Mu’jamal-Wasith disebutkan min
ghoiri bajah ila fikr wa ru yah (tanpa membutuhkan pemikiran dan
pertimbangan). Dalam ihya’ Ulumad-Din
dinyatakan asbduru al-af al bi subulah wa
yusr, min ghairi bajah ila fikr wa ru yah yang menimbulkan
perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mulah, tanpa memerlukan pemikiran dan
pertimbangan. Sifat spontanitas dari akhlaq tersebut dapat diilustrasikan dalam
contoh berikut ini. Bila seseorang menyumbang dalam jumlah besar untuk
pembangunan mesjid setelah mendapat dorongan dari seorang da’i (yang
mengemukakan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang keutamaan membangun mesjid di
dunia), maka orang tadi belum bisa dikatakan mempunyai sifat pemurah, karena
kepemurahannya waktu itu lahir setelah mendapat dorongan dari luar, dan belum
tentu muncul lagi pada kesempatan yang lain. Boleh jadi, tanpa dorongan seperti
itu, dia tidak akan menyumbang, atau kalaupun meny umbang hanya dalam jumlah
sedikit. Tapi manakala tidak ada dorongan dia b\tetap menyumbang, kapan dan
dimana saja, barulah bisa dikatakan dia mempunyai sifat pemurah.Contoh
lain,dalam penerimaan tamu.Bila seseorang membeda bedakan tamu yang satu dengan
yang lain,atau kadangkala ramah dan kadangkala tidak,maka orang tadi belum
dinyatakan mempunyai sifat memuliakan tamu,sebab seseorang yang mempunyai
akhlaq emmuliakan tamu,tentu akan selalu memuliakann tamunya.
Dari keterangan di atas
jelaslah bagi kita bahwa akhlaq itu haruslah bersifat konstan,spontan,tidak
temperor dan tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan serta dorongan dari
luar.
Sekalipun dari beberapa
definisi di atas kata akhlaq bersifat netral, belum menunjukkan kepada a
tertentu,maka yang dimaksud adalah akhlaq yang mulia.misalnya bila seseorang
berlaku yidak sopan kita mengatakan kepadanya,”kamu tidak berakhlaq”.pada hal
tidaksopan itu adalah akhlaqnya.tentu yang kita maksud adalah kamu tidak
memiliki akhlaq yang mulia,dalam hal in sopan.
Di samping istilah
akhlaq,juga dikenal istilah etika dan
moral.ketiga istilah itu sama sama menentukan nilai baik dan buruk sikap
dan perbuatan manusia.perbedaannya terletak pada standar adalah akal
fikiran;dan bami moral standarnya adat kebiasaan yang umum berlaku dimasyarakat.
Sekalipun dalam
pengertiannya antara ketiga istilah di atas (akhlak,etika dan moral) dapat
dibedakan,namun dalam pembicaraan sehari hari,bahkan dalam beberapa literatur
keislaman,kegunaannya sering tumpang tindih.Misalnya Judul buku Ahmad Amin, al-Akhlaq,diterjemahkan oleh prof. Farid
Ma`ruf dengan etika (ilmu Akhlaq).Dalam kamus inggris – indonesia karya John
M.Echols dan Hasan Shadily,moral juga di artikan Akhlaq.
A.
SUMBER AKHLAQ
Yang dimaksud sumber
akhlaq adalah yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan
tercela.sebagaimana keseluruhan ajaran islam,sumber akhlaq adalah Al-Qur`an dan
Sunnah,bukan akal fikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep
etika dan moral.dan bukan pula karena baik atau buruk dengan sendirinya sebagaiman
pandangan Mu`tazilah.
Dalam konsep akhlaq segala
sesuatu itu dinilai baik atau buruk,terpuji atau tercela,semata karena
syara`(Al-Qur`an dan sunnah) menilainya demikian.karena sifat
sabar,syukur,pemaaf,pemurah,dan jujur misalnya dinilai baik?tidak lain karena
syara` menilai semua sifat sifat baik.Begitu juga sebaliknya,kenapa
pemarah,tidak bersykur,dendam,kikir dan dusta misalnya dinilai buruk? Tidak
lain karena syara` menilai demikian
Apakah islam menapikan
peran hati nurani,akal dan pandangan masyarakat dalam menentukan baik dan buruk
atau dengan ungkapan lain dapatkah ketiga hal tersebut dijadikan ujuran baik
dan buruk?
Hati nurani atau fitrah
dalam bahasa Al-Qur`an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena
manusia diciptakan oleh Allah SWT memili fitrah bertauhid,mengakui
keesaannya(QS.Ar-rum 30:30).karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian
dan selalu cendrung kepada kebenaran.Hati nuraninya selalu mendambakan dan
merindukan kebenaran,ingin mengikuti ajaran ajaran tuhan karena kebenaran itu
tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak.Namun
fitrah manusia tidak selalu terjamin dapat berfungsi dengan baik karena
pengaruh dari luar,misalnya pengaruh pendidikan dan lingkungan.Fitrah hanyalah
merupakan potensi dasar yangperlu dipelihara dan dikembangkan.Betapa banyak
manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi
melihat kebenaran.Oleh sebab itu ykuran baik dan buruk kigta dapat serahkan
sepenuhnya hanya kepada hati nurani dan fitrah manusia semata.Harus
dikembalikan kepada penilaian syara`.Semua keputusan syara` tidak akan
bertentangan dengan hati manusia,karena kedua duanya berasal dari sumber yang
sam yaitu Allah SWT
Demikian juga halnya
dengan akhlak fikiran.ia hanyalah salah satu kekuatan yang dimiliki
manusiauntuk mencari kebaikan.Dan keputusannya bermula dari pengalaman empiris
kemudain diolah menurut kemampuan pengetahuannya.Oleh karena itu keputusan yang
diberikan akal hanya bersikap spekulatif dan subyektif.
Demikianlah tentang nhati
nurani dan akaal fikiran.bagaimana dengan pandangan masyarakat juga bisa
dijadikan salah satu ukuran baik dan buruk,tetapi sangat relatif,tergantung
sejauh mana kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan fikiran mereka dapat
terjaga.masyarakat yang hati terpuji tentu tidak bisa dijadikan ukuran.Hanya
kebiasaan masyarakat yang baiklah yang bisa dijadikan ukuran.
Dari uraian di atas
jelaslah bagi kita bahwa ukran yang pasti (tidak spekulatif),obyektif
komprensip dan universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah Al-Qur`an dan
Sunnah,bukan yang lain lainnya.
B.
RUANG LINGKUP AKHLAQ
Muhammad `Abdullah Draz
dalam bukunya Dustur al-Aklaq fi al-islam
membagi ruang lingkup akhlaq kepada lima bagian:
1. Akhlaq pribadi (al-akhlaq
al-fardiyah).Terdiri dari(a) yang diperintahkan (al-awamir),(b)yang dilarang (an-nawahi),(c)yang
dibolehkan (al-muhabat)dan(d)akhlak
dalam keadaan darurat (al-mukhalafah bi al-idhthirar).
2. Akhlaq Berkeluarga(al-akhlaq
al-usariah).Terdiri dari(a)kewajiban timbal balik orang tua
dan anak(wajibat nahwa al-ushul wa
alfaru`),(b) kewajiban suami istri(wajibat
baenal al-azwaj)dan (c) kewajiban terhadap karib kerabat (wajibat nahwa al-aqarib).
3.Akhlaq Bermasyarakat(al-akhlaq al-ijtima`iyyah).terdiri
dari (a) yang dilarang (al-mahzhurat)
(b) yang diperintahkan (al-awamiir)
dan (c) kaedah kaedah adap (qawaid
al-adab).
4. Akhlaq Bernegara (akhlaq
ad-daulah) terdiri dari (a) hubungan antara pemimpin dan rakyat (al-alaqah baina ar-rais wa as-sya`b) dan
(b) hubungan luar negeri (al-alaqat
al-kharijiyyah).
5.Akhlaq beragama (al-akhlaq addiniyyah).yaitu
kewajiban terhadap Allah SWT (wajibat
nahwa Allah)
Dari sistimatika yang
dibuat oelh `Abdullah Draz di atas tampaklah bagi kita bahwa ruang lingkup
akhlaq itu sangat luas,mencakup seluruh aspek kehidupan,baik secara vertikal
dengan Allah SWT maupun secara horizontal sesama makhluk-Nya.
Berangkat dari sistematika
di atas dengan sedikit modifikasipenulis membagi pembahasan akhlaqdalam buku
ini menjadi:
1.
Akhlaq Terhadap Allah SWT
2.
Akhlaq Terhadap Rulullah saw
3.
Akhlaq Pribadi
4.
Akhlaq Dalam Keluarga
5.
Akhlaq Bermasyarakat
6.
Akhlaq Bernrgara
C.
KEDUDUKAN DAN KEISTIMEWAAN
AKHLAQ DALAM ISLAM
Dalam keseluruhan ajaran
Islam akhlaq menempati kedudukan yang istimewa dan sangant penting.Hal itu
dapat dilihat dalam beberapa nomor berikut in:
1,Rasulullah saw menempatkan
penyempurnaan akhlaq yang mulia sebagai misi pokok
Risalah Islam.Beliau bersabda:
انما بعثت لا تمتم مكارم الا خلاق
( ر ؤاه البيهقى )
“Sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”(HR.Baihaqi)
2,Akhlaq merupakan salah satu ajaran pokok agama islam,sehingga rasulullah
saw pernah
mendefinisikan agama itu dengan akhlaq yang baik (husn al-khuluq).diriwayatkan oleh seorang laki laki bertanya kepada
rasulullah saw:
يا رسول
الله ما الد ين ؟ فقا ل الر سو ل صلى ا لله
عليه وسلم: حسن الخلق.
“Ya Rasulullah,apakah
agama itu?beliau mejawab (Agama adalah) Akhlaq yang baik.”
Pendefinisian agama (islam) dengan akhlaq yang baik itu
sebanding dengan pendefinisian ibadah haji dengan wuquf di `Arafah . Rasulullah
menyebutkan,”haji adalah wuquf di `Arafah.”Artinya tidak sah haji seseorang
tanpa wukuq di Arafah.
3,Akhlaq yang baik akan memberatkan timbangan kebaikan seseorang nanti
padahari
kiamat.Rasulullah saw bersabda:
ما من شيئ اثقل
فى ميزا ن العبد المؤ من يوم القيا مة من حسن الخلق..
( ر واه التر مزى)
“tidak ada satupun yang akan memberatkan
timbangan(kebaikan) seorang hamba mukmin nanti pada hari kiamat selain dari
akhlaq yang baik.. ”(HR Tirmizi)
Dan orang yang paling dicintai serta paling dekat dengan rasulullah
saw nanti pada hari kiamat adalah yng paling baik akhlaqnya.’Abdullah ibn ‘Umar
berkata:
سمعت رسول الله
صلى الله عليه وسلم يقول: الا اخبركم با حبكم واقر بكم مجلسا يوم القيا مة ؟ فا عا
د ها مر تين او ثلا ثا.
قا لوا: نعم يا رسول الله.قا ل:احسنكم خلقا ((رواه احمد
“Aku mendengar Rasulullah
berrsaba:”maukah kalian aku beritahukan siapa diantara kalian yang paling aku
cintai dan paling dekat tempatnya denganku nanti pada hari kiamat?”beliau
mengulangi pertanyaan itu tiga kali,lalu sahabat sahabat menjawab:”Tentu ya
rasulullah”.yaitu yang paling akhlaqnya
di antara kalian.”(HR.Ahmad)
4. Rasulullah saw menjadikan baik buruknya akhlaq seseorang
sebagai ukuran kualitas
imannya.Hal itu dapat kita
perhatikan dalam beberapa hadits berikut ini
a. Rasulullah SAW
bersabda:
اكمل المؤمنين
ايمانا احسنهم خلقا (رواه التر مزى)
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik
akhlaqnya”
(HR Tirmizi)
b. Rasulullah SAW bersabda:
الحياء والاءيما
قرناء جميعا,فاذا رفع احد هما رفع الا خر ( رواه الحاكم و الطبرانى )
“Rasa malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana
lenyap salah satunya hilang pulalah yang lain”(HR Hakim dan Tahabrani)
c. Rasulullah SAW
bersabda:
وا الله لايؤمن,
والله لا يؤمن,والله لا يؤمن,قيل,من يارسول الله ؟ قا ل: الذ ى لا يامن جا ره بوا
ئقه ( رواه البخارى)
“Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah,
dia tidak beriman! Seorang sahabat bertanya :”Siapa dia (yang tidak beriman
itu) ya rasulullah?” beliau menjawab:”orang yang tetangganya tidak aman dari
keburukannya” (HR Bukhori)
d. Rasulullah
SAW bersabda:
من كان يؤمن با
لله واليوم الاخر فليقل خيرا اوليصمت,ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخرفليكرم
جاره,ومن كان يؤمن
بالله والا يوم الاخر فليكرم ضيفه ( رواه
البخارى وسلم)
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia
berkata baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir,
maka hendaklah ia memuliakan tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR Bukhori dan Muslim )
Demikianlah nampak bagi kita dalam beberapa teks hadits
diatas bahwa Rasulullah SAW mengingatkan antara raa malu, adab berbicara, dan
sikap terhadap tamu dan tetangga misalnya dengan eksistensi dan kualitas iman
seseorang.
5. Islam Menjadikan Akhlaq yang baik sebagai bukti dan buah dari
ibadah kepada Allah SWT.
Misalnya Shalat, Puasa, Zakat dan Haji. Perhatikan beberapa nash berikut
ini:
a. Firman Allah SWT:
اتْلُمَاأُوحِيَإِلَيْكَمِنَالْكِتَابِوَأَقِمِالصَّلاةَإِنَّالصَّلاةَتَنْهَىعَنِالْفَحْشَاءِوَالْمُنْكَرِوَلَذِكْرُاللَّهِأَكْبَرُوَاللَّهُيَعْلَمُمَاتَصْنَعُونَ
“...dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan keji dan munkar)”(QS Al-Ankabut 29.45)
b Sabda Rasulullah SAW:
ليس الصيا م من
الاكل والشرب, انما الصيا م من اللو والر فث, فان سا بك احد او جهل عليك فقل انى
صا ئم
( رواه ابنخزيمة )
“Bukanlah puasa itu hanya menahan makan dan minum saja, tapi puasa itu
menahan diri dari perbuatan kotor dan keji. Jika seseorang mencaci dan
menjahilimu maka katakanlah aku: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Ibn Khuzaimah)
c. Firman Allah SWT:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً
تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ
لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيم
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu
membersihkan dan mensucikan mereka...”(QS Attaubah 9:103)
d. Firman Allah SWT:
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ
وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
“(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang
menetapkan niatnya pada bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh
Rafats (Mengeluarkan perkataan yang menimbulkan birahi yang tidak senono atau
bersekutu), berbuat pasik dan berbantah-bantahan didalam masa mengerjakan
haji.”(QS. Al-Baqarah 2:197)
Dari beberapa ayat dan hadits diatas, kita dapat melihat
adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, zakat dan haji dengan akhlaq.
Seseorang yang mendirikan shalat tentu tidak akan mengerjakan segala perbuatan
yang tergolong keji dan munkar. Sebab apalagi arti shalatnya kalau dia tetap
saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seseorang yang benar-benar berpuasa
demi ridho Allah SWT, disamping menahan keinginannya untuk makan dan minum,
tentu juga akan menahan dirinya dari segala kata-kata yang kotor dan perbuatan
yang tercela.. sebab tanpa meninggalkan perbuatan yang tercela itu dia tidak
akan mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya rasa lapar dan haus
semata. Begitu juga dengan ibadah zakat dan haji, dikaitkan oleh Allah SWT
hikmahnya dengan aspek akhlaq. Ringkasnya, Akhlaq yang bai adalah buah dari
Ibadah yang baik, atau ibadah yang baik dan diterima oleh Allah SWT tentu akan
melahirkan Akhlaq yang bai dan terpuji.
6. Nabi Muhammad SAW selalu berdo’a agar Allah SWT membaikkan
akhlaq beliau.
اللحم اهد نى لا
احسن الا خلاق,فانه لا يهدى لاحسنهاالا انت. واصرف عنى سيئها, فانه لا يصرف عنى
سيئها الا انت
(رواه سلم ).
“(Ya Allah) tunjukilah aku (jalan menuju) Akhlaq yang baik, karena
sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi petunjuk (menuju jalan) yang lebih
baik selain Engkau. Hindarkanlah aku dari akhlaq yang buruk, karena
sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku dari akhlaq yang buruk
kecuali engkau. ”(HR Muslim)
7. Didalam Al-Qur’an banyak terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan Akhlaq,
baik berupa perintah untuk berakhlaq yang baik serta pujian dan pahala yang
diberikan pada orang-orang yang mematuhi perintah itu, maupun larang berakhlaq
yang buruk serta celaan dan dosa bagi orang-orang yang melanggarnya. Tidak
diragukan lagi bahwa banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an tentang akhlaq-akhlaq ini
membuktikan betapa pentingnya kedudukan akhlaq didalma Islam.
Demikianlah antara lain
beberapa hal yang menjelaskan kepada kita kedudukan dan
keistimewaan akhlaq
didalam Islam.
D.
CIRI – CIRI AKHLAQ DALAM
ISLAM
Disamping kedudukan dan
keistimewaan akhlak yang sudah di uraikan dalam fasal sebelumnya maka akhlaq
dalam Islam paling kurang juga memiliki lima ciri-cirihas yaitu (1) Rabbani,
(2) Manusiawi, (3) Universal, (4) Seimbang, dan (5) Realistik. Berikut ini
uraian ringkas kelima ciri-ciri tersebut :
1. Akhlaq Rabbani
Ajaran Islam bersumber dari wahyu Ilahi yang bermaktub dalam Al-Qur’an dan
Sunnah. Didalam Al-Qur’an terdapat kira-kira 1.500 ayat yang mengandung ajaran
akhlaq, baik yang teoritis maupun yang praktis. Demikian pula hadits-hadits
Nabi sangat banyak jumlahnya yang memberikan pedoman akhlaq. Sifat Rabbani dari
akhlaq juga menyangkut tujuannya, yaitu untuk memperoleh kebahagiaan didunia
kini dan di akherat nanti.
Ciri Rabbani juga menegaskan bahwa akhlaq dalam Islam bukanlah moral
yang kondisional dan situasional, tetapi akhlaq yang benar-benar memiliki nilai
yang mutlak. Akhlaq Rabbanilah yang mampu menghindari kekacauan nilai
moralitas dalam hidup manusia.
Al-Qur’an mengajarkan:
وَأَنَّهَذَاصِرَاطِيمُسْتَقِيمًافَاتَّبِعُوهُوَلاتَتَّبِعُواالسُّبُلَفَتَفَرَّقَبِكُمْعَنْسَبِيلِهِذَلِكُمْوَصَّاكُمْبِهِلَعَلَّكُمْتَتَّقُونَ?
( البقره : ١٥٣ )
“Inilah jalanku yang lurus; hendaklah kamu mengikutinya; jangan kamu ikuti
jalan-jalan lain, sehingga kamu bercerai berai dari jalannya. Demikian
diperintahkan kepadamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-An’am 6: 153)
2.
Akhlaq Manusia
Ajaran Akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi tuntunan
fitrah manusia.kerinduan jiwa manusia kepada kebaikan akan terpenuhi dengan
mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Ajaran akhlaq dalam Islam diperuntukkan
bagi manusia yang merindukan kebahagiaan dalam arti hakiki, bukan kebahagiaan
semu. Akhlaq Islam adalah akhlaq yang benar-benar memelihara eksistensi manusia
sebagai makhluk terhormat, sesuai dengan fitrahnya.
3. Akhlaq
Universal
Ajaran akhlaq dalam Islam sesuai dengan kemanusiaan yang
universal dan mencakup segala aspek hidup manusia, baik yang dimensinya
vertikal maupun yang horisontal. Sebagai contoh Al-Qur’an menyebutkan sepuluh
macam keburukan yang wajib dijauhi oleh setiap orang, yaitu menyekutukan Allah,
durhaka kepada kedua orang tua, membunuh anak karena takut miskin, berbuat keji
baik secara terbuka maupun tersembunyi, membunuh orang tanpa alasan yang sah,
makan harta anak yatim, mengurangi takaran dan timbangan, membebani orang lain kewajiban melampaui
kekuatannya, persaksian tidak adil, dan menghianati janji dengan Allah (QS
Surat Al-An’am 6: 151-152)
4. Akhlaq
Keseimbangan
Ajaran akhlaq dalam Islam berada ditengah antara yang
menghayalkan manusia sebagai malaikat yang menitik beratkan segi kebaikannya
dan yang menghayalkan manusia seperti hewan yang menitik beratkan sifat
keburukannya saja. Manusia menurut pandangan Islam memiliki dua kekuatan dalam
dirinya, kekuatan baik pada hati nurani dan akalnya dan kekuatan buruk pada hawa
nafsunya. Manusia memiliki naruliah hewani dan juga ruhaniah malaikat. Manusia
memiliki unsur ruhani dan jasmani yang memerlukan pelayanan masing-masing
secara seimbang. manusia hidup tidak hanya didunia kini tetapi dilanjutkan
dengan kehidupan diakherat nanti. Hidup didunia merupakan ladang bagi akherat.
Akhlaq Islam memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, jasmani dan ruhani, secara
seimbang, memenuhi tuntutan hidup bahagia didunia dan akherat secara seimbang
pula. Bahkan memenuhi kebutuhan pribadi harus seimbang dengan memenuhi
kewajiban terhadap masyarakat. Rasulullah SAW memberikan ucapan salman kepada
Abu Darda’:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar