Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH
“Sembahyang Rumputan” berikut ini.
walau kau bungkam suara azan
walau kau gusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
ilillahi rabbil ‘alamin
......................................................
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
Pada sajak
Sembahyang Rumputun ini, Ahmadun tidak segan-segan mengatakan pada
puisinya aku lirik sebagai
rumputan. Rumputan itu sudah membawa batin berserta jiwanya melayang-layangn
ibarat rumput yang selalu berdizikir menyebut nama Tuhan. Memang terkadang
rumput selalu dikaitkan dengan tanaman liar atau gulma tanaman. Tetapi
Ahmadun tidak menganggap sebagai tanaman
liar yang hina dan diam, rumput itu selalu berdzikir menyebut nama
Tuhan. Kebatinannya terhadap Tuhan sangat erat walau ia hanya mengibaratkan
sebagai rumput, ia akan menjadi rumput
yang kuat tak pernah lupa dengan pencipta dan kewajibanya sebagai manusia.
Keligiusan Ahmadun dalam proses kreatifnya pun sampai menyebutkan sebuah ayat
yang berbunyi “inna shalaati wa nusuki, wa mahyaaya wa mamaati, ilillahi rabbil
‘alamin” yang memperlihatkan betapa proses kreatif Ahmadun juga didasari
kereligiusannya (kewajiban sebagai manusia yang harus mengingat pencipta) yang
dihubungkan dengan ayat Islam sehingga memperlihatkan begitu kuat batin yang
dirasakan Ahmadun antara orang-orang sekitar dan Tuhannya.
- Nilai-nilai
1.
Nilai
agama, sudah jelas dalam puisi tersebut mempunyai nilai agama yang sangat
kental dan kuat, puisi tersebut mengajarkan tentang ketaatan kita sebagai
manusia dalam mengerjakan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa terutama
dalam mendirikan ibadah shalat, dan tetap sabar walaupun mendapat suatu cobaan.
2.
Nilai moral, dalam puisi tersebut mengajarkan tentang
bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku yang baik dalam menjalankan kehidupan
bermasyarakat
- Makna Puisi
1.
Kata
“Sembahyang” memiliki arti menyembah, memuja, yaitu hubungan antara manusia
sebagai ciptaan dan penciptanya melalui sebuah ibadah langsung dengan sang
khalik.
2.
Kata
“walau” memiliki arti meski,meskipun, kata ini menyatakan sebuah perbandingan.
3.
Kata
“tuhan” memiliki arti suatu yang dipuja, disembah oleh manusia.
4.
Kata
“aku rerumputan” kata tersebut menggambarkan manusia yang digambarkan denan
rerumputan. Kalimat dalam judul sajak tersebut selalu diulang-ulang kembali dalam
beberapa lariknya, perulangan kalimat tersebut berfungsi sebagai penegas
pengertian makna hubungan kedekatan antara manusia dengan tuhannya.”Aku
Rerumputan” merupakan majas metafora yang dibangun darikata-kata aku dan
rerumputan. Kata ”aku” berarti orang pertama atau tunggal. Secara sistematis
kata “aku” tersebut membeyangkan adanya seseorang baik laki-laki ataupun
perempuan, sebagai kata ganti atau sebutan orang pertama tunggal, dan jelas
menunjukkan adanya manusia.
5.
Kata
“inna shalati a nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil’alamin” kata
tersebut menerangkan sesungguhnya kesungguhan atau keikhlasan seorang manusia
menjalani ibadahnya, yaitu sembahyang seperti yang sudah dijelaskan di atas dan
menyerahkan apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya kepada tuhannya.
6.
Kata
“topan menyapu luas padang” kalimat tersebut memiliki arti angin yang teramat
kencang dan bisa meluluhlantahkan segala yang ada dihadapannya, sedangkan kata
luas padang berarti tanah yang sangat luas.
7.
Kata
“tubuhku bergoyang-goyang” kalimat tersebut berarti manusia selalu bergerak dan
mengalami ujian atau cobaan dalam hidupnya.
8.
Kata
“tetapi tetap teguh dalam sembahyang” kalimat tersebut mangartikan seseorang
yang selalu taat beribadah meskipun cobaan selalu datang.
9.
Kata
“akarku mengurat di bumi” memiliki arti seorang manusia yang punya keteguhan
hati yang sangat kuat dan keteguhan itu bagaikan akar yang menancap di bumi.
10. Kata “aku rerumputan kekasih tuhan”
memiliki arti yaitu, manusia yang secara metaforis membayangkan hubungan antara
aku (manusia) dengan tuhannya.
11. Kata “di kota-kota disingkirkan,
alam memeliharaku subur di hutan” kesan heterogenitas dan keterpecahan
heuristik dalam puisi ini semakin kuat terlihat, “di kota-kota disingkirkan”
memiliki arti terbuang, frase kalimat tersebut menggambarkan seseorang yang
keberadaannya terbuang oleh hirup likup keramaian. Sedangkan kalimat “alam
memeliharaku subur di hutan” tidak diketahui hubungan dengan frasa “di
kota-kota disingkirkan”.
SEMBAHYANG RUMPUTAN
(Ahmadun Yosi Herfanda)
walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah
tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin
topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam
sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap
shalawat nabi
sembahyangku sembahyang
rumputan
sembahyang penyerahan jiwa
dan badan
yang rindu berbaring di
pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang
rumputan
sembahyang penyerahan
habis-habisan
walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput
baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di
hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau
kupersembahkan
pada tanah akar
kupertahankan
agar tak kehilangan asal
keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar