kenali saya guys...

Kamis, 21 Juli 2016

Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH @l.faihanah04



Alunan Resonansi Religius dan Sosial dalam Sajak-Sajak AYH

 Sembahyang Rumputan” berikut ini.
walau kau bungkam suara azan
walau kau gusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
ilillahi rabbil ‘alamin
......................................................
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
                       
Pada sajak Sembahyang Rumputun ini, Ahmadun tidak segan-segan mengatakan pada puisinya  aku lirik sebagai rumputan. Rumputan itu sudah membawa batin berserta jiwanya melayang-layangn ibarat rumput yang selalu berdizikir menyebut nama Tuhan. Memang terkadang rumput selalu dikaitkan dengan tanaman liar atau gulma tanaman. Tetapi Ahmadun  tidak menganggap sebagai tanaman liar  yang hina dan diam,  rumput itu selalu berdzikir menyebut nama Tuhan. Kebatinannya terhadap Tuhan sangat erat walau ia hanya mengibaratkan sebagai rumput,  ia akan menjadi rumput yang kuat tak pernah lupa dengan pencipta dan kewajibanya sebagai manusia. Keligiusan Ahmadun dalam proses kreatifnya pun sampai menyebutkan sebuah ayat yang berbunyi “inna shalaati wa nusuki, wa mahyaaya wa mamaati, ilillahi rabbil ‘alamin” yang memperlihatkan betapa proses kreatif Ahmadun juga didasari kereligiusannya (kewajiban sebagai manusia yang harus mengingat pencipta) yang dihubungkan dengan ayat Islam sehingga memperlihatkan begitu kuat batin yang dirasakan Ahmadun antara orang-orang sekitar dan Tuhannya.
  • Nilai-nilai
1.        Nilai agama, sudah jelas dalam puisi tersebut mempunyai nilai agama yang sangat kental dan kuat, puisi tersebut mengajarkan tentang ketaatan kita sebagai manusia dalam mengerjakan kewajiban kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa terutama dalam mendirikan ibadah shalat, dan tetap sabar walaupun mendapat suatu cobaan.
2.       Nilai moral, dalam puisi tersebut mengajarkan tentang bagaimana seharusnya kita bersikap dan berperilaku yang baik dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat

  • Makna Puisi
1.        Kata “Sembahyang” memiliki arti menyembah, memuja, yaitu hubungan antara manusia sebagai ciptaan dan penciptanya melalui sebuah ibadah langsung dengan sang khalik.
2.        Kata “walau” memiliki arti meski,meskipun, kata ini menyatakan sebuah perbandingan.
3.        Kata “tuhan” memiliki arti suatu yang dipuja, disembah oleh manusia.
4.        Kata “aku rerumputan” kata tersebut menggambarkan manusia yang digambarkan denan rerumputan. Kalimat dalam judul sajak tersebut selalu diulang-ulang kembali dalam beberapa lariknya, perulangan kalimat tersebut berfungsi sebagai penegas pengertian makna hubungan kedekatan antara manusia dengan tuhannya.”Aku Rerumputan” merupakan majas metafora yang dibangun darikata-kata aku dan rerumputan. Kata ”aku” berarti orang pertama atau tunggal. Secara sistematis kata “aku” tersebut membeyangkan adanya seseorang baik laki-laki ataupun perempuan, sebagai kata ganti atau sebutan orang pertama tunggal, dan jelas menunjukkan adanya manusia.
5.        Kata “inna shalati a nusuki wa mahyaaya wa mamaati lillahi rabbil’alamin” kata tersebut menerangkan sesungguhnya kesungguhan atau keikhlasan seorang manusia menjalani ibadahnya, yaitu sembahyang seperti yang sudah dijelaskan di atas dan menyerahkan apa yang akan terjadi di dalam kehidupannya kepada tuhannya.
6.        Kata “topan menyapu luas padang” kalimat tersebut memiliki arti angin yang teramat kencang dan bisa meluluhlantahkan segala yang ada dihadapannya, sedangkan kata luas padang berarti tanah yang sangat luas.
7.        Kata “tubuhku bergoyang-goyang” kalimat tersebut berarti manusia selalu bergerak dan mengalami ujian atau cobaan dalam hidupnya.
8.        Kata “tetapi tetap teguh dalam sembahyang” kalimat tersebut mangartikan seseorang yang selalu taat beribadah meskipun cobaan selalu datang.
9.        Kata “akarku mengurat di bumi” memiliki arti seorang manusia yang punya keteguhan hati yang sangat kuat dan keteguhan itu bagaikan akar yang menancap di bumi.
10.     Kata “aku rerumputan kekasih tuhan” memiliki arti yaitu, manusia yang secara metaforis membayangkan hubungan antara aku (manusia) dengan tuhannya.
11.     Kata “di kota-kota disingkirkan, alam memeliharaku subur di hutan” kesan heterogenitas dan keterpecahan heuristik dalam puisi ini semakin kuat terlihat, “di kota-kota disingkirkan” memiliki arti terbuang, frase kalimat tersebut menggambarkan seseorang yang keberadaannya terbuang oleh hirup likup keramaian. Sedangkan kalimat “alam memeliharaku subur di hutan” tidak diketahui hubungan dengan frasa “di kota-kota disingkirkan”.

SEMBAHYANG RUMPUTAN
(Ahmadun Yosi Herfanda)


walau kaubungkam suara azan
walau kaugusur rumah-rumah tuhan
aku rumputan
takkan berhenti sembahyang
:inna shalaati wa nusuki
wa mahyaaya wa mamaati
lillahi rabbil ‘alamin

topan menyapu luas padang
tubuhku bergoyang-goyang
tapi tetap teguh dalam sembahyang
akarku yang mengurat di bumi
tak berhenti mengucap shalawat nabi
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan jiwa dan badan
yang rindu berbaring di pangkuan tuhan
sembahyangku sembahyang rumputan
sembahyang penyerahan habis-habisan


walau kautebang aku
akan tumbuh sebagai rumput baru
walau kaubakar daun-daunku
akan bersemi melebihi dulu
aku rumputan
kekasih tuhan
di kota-kota disingkirkan
alam memeliharaku subur di hutan
aku rumputan
tak pernah lupa sembahyang
:sesungguhnya shalatku dan ibadahku
hidupku dan matiku hanyalah
bagi allah tuhan sekalian alam
pada kambing dan kerbau
daun-daun hijau kupersembahkan
pada tanah akar kupertahankan
agar tak kehilangan asal keberadaan
di bumi terendah aku berada
tapi zikirku menggema
menggetarkan jagat raya
: la ilaaha illalah
muhammadar rasululah
aku rumputan
kekasih tuhan
seluruh gerakku
adalah sembahyang


Tidak ada komentar:

Posting Komentar